Categories
Uncategorized

Tak Ada Sinyal Alien di Art Jog

MENARA itu tingginya 36 meter. Bentuknya biasa. Hanya, di pucuk menara itu samar-samar terlihat bertengger alat seperti piring terbang berwarna putih. Andai menara itu minggu-minggu ini ditempatkan bukan di halaman pendapa Jogja National Museum tapi di sembarang jalan di Yogyakarta, mungkin orang menganggapnya sebuah menara telepon seluler biasa.

Padahal tower itu adalah bagian penting dari karya seni Vincensius ”Venzha” Christiawan yang menjadi landmark Art Jog 9. Menara itu adalah Commissioned Art Jog 9 yang bertema Universal Influence. Venzha menamakan karyanya sebagai Indonesia Space Science Society atau ISSS. Menara itu, menurut dia, mampu menangkap sinyal-sinyal frekuensi rendah. Adapun penonton bisa merasakan sinyal frekuensi tinggi dari radio astronomi buatannya. Di kaki menara itu Venzha membuat sebuah ruangan pemantau alien.

Di situlah ia memasang radio astronomi. Penonton bisa berjalan memasuki lorong untuk melihat radio astronomi yang berbentuk kapsul mesin elektronik. Alien Activity Area itu sendiri seperti memiliki tegangan listrik tinggi. Sedikit salah memegang kabel akan berbahaya. Melalui headphone di ruang pemantau alien itu, penonton bisa mendengarkan suara gelombang frekuensi tinggi dan rendah. Kita tidak tahu apakah itu benarbenar gelombang lain atau gelombang radio biasa. Semua peralatan itu, menurut Venzha, menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar. Itu pun minus biaya menara.

”Base transceiver station atau menara pemancarnya kami pinjam dari Solusi Tunas Pratama, perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi,” kata Venzha. Tak syak, pada malam pembukaan Art Jog, 27 Mei lalu, banyak penonton penasaran dan antre mencoba headphone di ruang alien itu. Yang terdengar cuma kresakkresek. Venzha juga memasang 12 layar monitor yang menampilkan bagaimana antena-antena pengintai ruang angkasa itu bekerja. Gambar di layar monitor juga membingungkan. Sehari setelah pameran dibuka, sejumlah pengunjung kecele.

Tak ada petugas yang mengarahkan bagaimana mencoba radio astronomi itu. Sejumlah monitor yang menampilkan tayangan alat pucuk menara mati. l l l TEMA UFO dalam dunia seni rupa kita bukan sesuatu yang baru. Pelukis terkenal Sudjana Kerton (meninggal di usia 72 tahun pada 1994), misalnya, pernah melukis sebuah obyek angkasa berbentuk piring terbang melayang di gelap malam di antara perbukitan.

Beberapa makhluk aneh berada di bawah piringan itu. Lukisan Sudjana Kerton berukuran 200 x 300 sentimeter itu berjudul Mimpi UFO. Dalam situs Sotheby’s Hong Kong pada 2004, lukisan ini dilelang dengan kisaran harga HK$ 1-1,5 juta atau Rp 1,7-2,6 miliar (nilai tukar saat ini). ”Waktu itu dijual masih ratusan juta rupiah,” ujar Tjandra Kerton, putri sulung Sudjana Kerton.

Setelah 25 tahun mengembara di Eropa dan Amerika Serikat, pada 1976, Sudjana Kerton membawa istrinya yang kelahiran Amerika, Louise, dan tiga orang anak menetap di Bandung. Ia membangun sebuah studio-galeri bernama Sanggar Luhur, yang beralamat di Jalan Bukit Pakar Timur Nomor 80. Selain Mimpi UFO, satu lagi lukisan bertema UFO adalah Liat UFO, yang berukuran lebih kecil. Tjandra ingat lukis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *