Categories
Uncategorized

UFO Ternyata Benaran Ada

itu dibuat seminggu atau sebulan setelah ayahnya berceloteh tentang UFO. Menurut Tjandra, lukisan Mimpi UFO dan Liat UFO selama bertahun-tahun tak pernah dipajang atau digantung di dinding ruang galeri depan. ”Ayah tak pernah berusaha memperlihatkan kepada tamunya. Kecuali kalau mereka ke ruang belakang,” ujarnya. Pelukis Dedy Suardi, 76 tahun, pensiunan dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Bandung, yang rumahnya berjarak sekitar 750 meter dari rumah Sudjana, pernah menulis dalam bukunya, Tafakur di Galaksi Luhur, pengalaman unik Sudjana melihat piring terbang.

Menurut Dedy, Sudjana kepadanya berkisah pertama kali melihat benda asing di angkasa di sebuah taman di Denver, Amerika Serikat, pada malam hari, Agustus 1953. Setelah kejadian itu, Sudjana tertarik membaca buku laporan mengenai UFO. ”Bahkan desain Sanggar Luhur juga dibuat bundar seperti bentuk pesawat UFO,” tutur Dedy. Dedy mengatakan Sudjana bercerita kepadanya suatu malam di Bandung saat keluarganya sudah tertidur bahwa ia kedatangan dua makhluk aneh.

Makhluk itu menerobos semak setinggi sekitar satu meter. Sudjana menyebutnya robot karena gerak jalannya kaku. Sudjana, yang merasa terhipnotis, tak bisa lari menghindar. Dua makhluk itu membawanya ke pesawat luar angkasa yang melayang melalui tangga cahaya. Di dalam pesawat itu, Sudjana, menurut Dedy, menyaksikan sosok lain. ”Pakaiannya serba putih, tubuhnya tinggi sampai beliau harus mendongak,” katanya.

Di sana Sudjana dibaringkan dan tubuhnya diperiksa. Setelah itu, ia dikembalikan lagi turun ke rumahnya. UFO lenyap. Karena masih penasaran dengan pengalaman itu, keesokan harinya Sudjana mencari tapak-tapak kaki robot itu. Setelah menemukan jejaknya di tanah pekarangan rumah, ia mencetaknya dengan gipsum yang biasa dipakainya untuk mematung. Tapi cerita Sudjana Kerton ini tak dipercaya keluarganya sendiri. Menurut Tjandra Kerton, dia dan ibunya mengatakan tak mempercayai pengalaman ayahnya tersebut.

Menurut mereka, apa yang dialami ayahnya itu tak jelas apakah benar kejadian nyata atau sebatas mimpi. ”’Ah, enggak ada itu. Mungkin hanya mimpi,’ begitu kata Ibu ketika Ayah mencoba bercerita,” ujar Tjandra. Tjandra mengakui ayahnya memang punya ketertarikan besar pada UFO dan hal-hal mistis sepulang ke Indonesia. Tjandra pun menampik jika rumah atau sanggar yang dibangun ayahnya ini disebut bentuknya mirip benda asing.

Sama seperti Sudjana Kerton yang gemar membaca buku laporan mengenai UFO, Venzha memang sejak remaja senang membaca literatur tentang UFO, termasuk buku karya J. Salatun berjudul Menyingkap Rahasia Piring Terbang. Venzha menyatakan intens mempelajari ruang angkasa sejak 2011, tatkala sering pergi ke Amerika. Venzha juga mengaku pernah melihat benda yang dianggapnya UFO.

Pada 2012, di New Mexico, ketika sedang berjalan pada malam hari, Venzha melihat UFO berbentuk bulat seperti bentuk bulan. Dia lalu memotret benda misterius itu. Selain di New Mexico, Venzha mengaku melihat UFO di Area 51 pada 2013.

Area 51 adalah pangkalan rahasia di Gurun Nevada, Amerika Serikat, yang menyandang reputasi paling misterius di muka bumi. Area 51 menjadi ikon bagi penggemar alien setelah insiden Roswell, yakni satu benda terbang aneh diduga jatuh di daerah itu. Waktu itu Venzha mendapat undangan dari University of California, Los Angeles, untuk mengajar selama tiga bulan. Venzha berkemah bersama mahasiswanya di dekat Area 51. Ia membawa alat pendeteksi frekuensi.

Website : kota-bunga.net

Categories
Uncategorized

Tak Ada Sinyal Alien di Art Jog

MENARA itu tingginya 36 meter. Bentuknya biasa. Hanya, di pucuk menara itu samar-samar terlihat bertengger alat seperti piring terbang berwarna putih. Andai menara itu minggu-minggu ini ditempatkan bukan di halaman pendapa Jogja National Museum tapi di sembarang jalan di Yogyakarta, mungkin orang menganggapnya sebuah menara telepon seluler biasa.

Padahal tower itu adalah bagian penting dari karya seni Vincensius ”Venzha” Christiawan yang menjadi landmark Art Jog 9. Menara itu adalah Commissioned Art Jog 9 yang bertema Universal Influence. Venzha menamakan karyanya sebagai Indonesia Space Science Society atau ISSS. Menara itu, menurut dia, mampu menangkap sinyal-sinyal frekuensi rendah. Adapun penonton bisa merasakan sinyal frekuensi tinggi dari radio astronomi buatannya. Di kaki menara itu Venzha membuat sebuah ruangan pemantau alien.

Di situlah ia memasang radio astronomi. Penonton bisa berjalan memasuki lorong untuk melihat radio astronomi yang berbentuk kapsul mesin elektronik. Alien Activity Area itu sendiri seperti memiliki tegangan listrik tinggi. Sedikit salah memegang kabel akan berbahaya. Melalui headphone di ruang pemantau alien itu, penonton bisa mendengarkan suara gelombang frekuensi tinggi dan rendah. Kita tidak tahu apakah itu benarbenar gelombang lain atau gelombang radio biasa. Semua peralatan itu, menurut Venzha, menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar. Itu pun minus biaya menara.

”Base transceiver station atau menara pemancarnya kami pinjam dari Solusi Tunas Pratama, perusahaan penyedia jaringan telekomunikasi,” kata Venzha. Tak syak, pada malam pembukaan Art Jog, 27 Mei lalu, banyak penonton penasaran dan antre mencoba headphone di ruang alien itu. Yang terdengar cuma kresakkresek. Venzha juga memasang 12 layar monitor yang menampilkan bagaimana antena-antena pengintai ruang angkasa itu bekerja. Gambar di layar monitor juga membingungkan. Sehari setelah pameran dibuka, sejumlah pengunjung kecele.

Tak ada petugas yang mengarahkan bagaimana mencoba radio astronomi itu. Sejumlah monitor yang menampilkan tayangan alat pucuk menara mati. l l l TEMA UFO dalam dunia seni rupa kita bukan sesuatu yang baru. Pelukis terkenal Sudjana Kerton (meninggal di usia 72 tahun pada 1994), misalnya, pernah melukis sebuah obyek angkasa berbentuk piring terbang melayang di gelap malam di antara perbukitan.

Beberapa makhluk aneh berada di bawah piringan itu. Lukisan Sudjana Kerton berukuran 200 x 300 sentimeter itu berjudul Mimpi UFO. Dalam situs Sotheby’s Hong Kong pada 2004, lukisan ini dilelang dengan kisaran harga HK$ 1-1,5 juta atau Rp 1,7-2,6 miliar (nilai tukar saat ini). ”Waktu itu dijual masih ratusan juta rupiah,” ujar Tjandra Kerton, putri sulung Sudjana Kerton.

Setelah 25 tahun mengembara di Eropa dan Amerika Serikat, pada 1976, Sudjana Kerton membawa istrinya yang kelahiran Amerika, Louise, dan tiga orang anak menetap di Bandung. Ia membangun sebuah studio-galeri bernama Sanggar Luhur, yang beralamat di Jalan Bukit Pakar Timur Nomor 80. Selain Mimpi UFO, satu lagi lukisan bertema UFO adalah Liat UFO, yang berukuran lebih kecil. Tjandra ingat lukis