Categories
News

Pengaruh Perkembangan 5G di Dunia Terhadap Kecepatan Akses internet Terutama WA WEB

Pengaruh Perkembangan 5G di Dunia Terhadap Kecepatan Akses internet Terutama WA WEBResponse tim satu milisecond, ini sekitar 50 kali lebih cepat da ri response time 4G,” ujar Hardyana Syintawati, VP Managing & Communication Ericsson In donesia saat konferensi pers di Jakarta beberapa e 5G dari perangkat ke BTS mencapai­ ­ waktu lalu. Ia pun lalu menjelaskan bahwa response time adalah waktu yang dibutuhkan BTS untuk bereaksi atas permintaan koneksi dari perangkat. “Response time yang cepat ini diperlukan karena dimasa depan, eranya Internet of Things di mana semua diatur lewat koneksi Internet, perangkat ini perlu waktu respons yang lebih cepat kalau tidak mau terjadi kekacauan,” tambahnya. Ia lantas mencontohkan bagaimana pengaturan lampu lalu lintas dan penyebrang jalan dan mobil yang menyetir otomatis perlu respons cepat jika tidak ingin terjadi kecelakaan. “Kalau BTS lambat memberitahu mobil otomatis untuk mengerem, dapat dibayangkan akibatnya,” tuturnya lagi. Meski demikian, 5G hingga saat ini masih dalam taraf penelitian dan pengembangan. Hardyana menambahkan teknologi ini akan siap dikomersilkan pada 2020. Kenapa perlu 5G? LTE atau 4G dengan kecepatan hingga 100Mbps memang jadi koneksi Internet wireless tercepat dan digadang­gadang lebih diandalkan saat ini ketimbang generasi sebelumnya. Namun, jutaan pengguna Internet terus menuntut layanan yang lebih gegas. Belum lagi kedatangan Internet of Things yang berarti tambahan miliaran perangkat yang juga haus layanan Internet yang stabil. Melayani miliaran pelanggan manusia dan mesin ini, perlu terobosan baru. Standar dari kecepatan koneksi 5G ditetapkan sebesar 1Gbps. Tujuan akhirnya harus bisa memberikan kecepatan multi­gigabita.

Bisa dibayangkan, dengan kecepatan ini, berarti mendownload film HD bisa dilakukan dalam hitungan detik! Tapi di depan sana, tantangannya bukan lagi mengirimkan gambar kualitas HD, tapi Ultra HD dan 4K, yang tentu lebih boros bandwidth. Selain itu, jalur Internet cepat ini juga bukan sekedar untuk memenuhi keinginan hura­hura kita semata, tapi untuk menangani hal lain yang lebih penting dari itu. Berkaitan pula dengan keselamatan dan nyawa manusia. Sebab, teknologi baru ini disiapkan untuk mampu merespons era Internet of Things. Era segala perangkat saling terkoneksi satu sama lain lewat Internet, di mana bisa dilakukan pembedahan jarak jauh atau self­driving car misalnya. Untuk bisa mengakomodasi ini semua, 5G perlu respons time yang lebih cepat. Gunanya agar perangkat yang dijalankan dari jarak jauh atau berjalan otomatis itu tidak terlambat menanggapi perintah yang akhirnya menimbulkan celaka. “Dengan LTE ketika Anda menyentuh layar, Anda perlu menunggu beberapa saat agar web merespons. Ini belum cukup cepat. Misalnya, Anda mungkin tak akan merasakan (kelambatan respons time dengan kecepatan) 500 hingga 600 ms, yang ber arti latensinya sekitar setengah detik.

Tapi, kalau Anda mengendarai mobil otomatis dan meminta untuk belok kanan, dengan delay 100ms, Anda akan mendapat masalah. Ini yang tidak dimiliki LTE,” jelas Dr. Wen Tong (Vice President of Wireless Research and CTO of Wireless of Huawei Technologies) seperti dikutip dari TechRadar. “Kita perlu mengurangi latensi hingga kurang dari 1ms. Itu berarti Anda perlu rancangan baru.” Selain kecepatan akses dan latensi yang lebih gegas, Hans Vestberg (CEO Ericsson) juga menyebutkan bahwa 5G juga harus makin pintar. Vestberg lantas mencontohkan mobil self­driving. Kendaraan ini perlu koneksi berlatensi rendah yang akan meningkatkan waktu responsnya. Sementara pengendara di dalamnya perlu kecepatan koneksi yang tinggi untuk melayani kebutuhan smartphone. Jaringan 5G mesti mahir mengatur ketersediaan koneksi dengan kebutuhan berbeda ini. Jaringan juga tahu ketika baterai smartphone pengguna hampir habis, maka ia akan mengurangi jumlah ping ke perangkat untuk menghemat energi, demikian seperti dilansir dari CNet. Selain itu GSMHistory.com juga menyebutkan tiga ciri lain dari koneksi 5G. Menurut website itu, biaya investasi 5G harus lebih murah meski performanya lebih baik dari LTE. Kecepatan Internet yang dihasilkan 5G merupakan hasil dari kepadatan berbagai cell kecil yang terpasang, ketimbang mengandalkan tower cell besar (BTS) saja. Dengan koneksi cell­cell kecil ini, pengguna mendapatkan koneksi dengan cakupan yang tak terputus. Kedepannya, akan digunakan koneksi dengan menggabungkan fiber dan nirkabel, dan untuk pertama kalinya Internet wireless akan menggunakan spektrum milimeter (20­60GHz). Saat ini, koneksi selular biasanya dilakukan pada frekuensi 600 MHz hingga 3GHz. Koneksi di spektrum milimeter ini tak bisa dilakukan oleh teknologi GSM yang ada saat ini, demikian ReCode. Di spektrum ini, memungkinkan kecepatan akses tinggi hingga 10Gbps. Peningkatan kecepatan ini terjadi karena pada spektrum data yang dibawa menumpang saluran magnitude yang lebih besar dari yang ada sekarang.

Perbandingannya, seperti jalan tol empat jalur yang diperlebar hingga 100 jalur atau lebih. Jika Anda menambahkan jalur di jalanan, berarti makin banyak kendaraan yang bisa lewat. Dan untuk membuatnya lebih efisien, beberapa jalur dibuat untuk pengendara jarak jauh, sementara jalur lain khusus digunakan untuk lalu lintas lokal. Tantangan Meski mampu membawa paket data yang lebih besar, sayangnya kelemahan frekuensi tinggi ini adalah pada cakupannya yang lebih sempit dari frekuensi di bawahnya. Sehingga, perlu banyak pemancar agar coverage bisa mencapai berbagai area. Namun, mendirikan menara­menara BTS dengan kerapatan tinggi, tentu bukan pilihan. Opsi ini hanya membuat kota menjadi seperti hutan BTS. Untuk itu, digunakan cell­cell kecil tadi untuk meneruskan sinyal. Dengan demikian, selain koneksinya lebih baik, biaya yang diperlukan untuk membangun cell jadi lebih murah. Dengan cell yang tersebar ini berarti layanan nirkabel bisa menjangkau lebih jauh dan lebih cepat. Cara ini berguna terutama di kota dengan kepadatan penduduk tinggi. Selain itu, koneksi ini juga mengombinasikan koneksi nirkabel pendek dan fiber optik. Mirip seperti yang disediakan pada layanan Wi­Fi. Cell kecil ini juga membantu mengisi area yang tidak tercakup oleh BTS besar. Cell kecil ini mendukung macrocell. Saat ini implementasi small cell ini bisa kita lihat sebagai penguat sinyal di gedung perkantoran dan rumah. Pada 5G, ide ini digunakan untuk wilayah perkotaan berpenduduk padat yang haus koneksi internet. Bentuknya jauh lebih kecil dari router Anda dan tidak perlu ditempatkan ditiang seperti BTS saat ini. Small cells bisa dibuat tak terlihat, ditempatkan di lampu jalan, bahkan di dinding bangunan. Sebab ukurannya lebih kecil, maka jangkauannya pun lagi­lagi lebih sempit. Ada risiko yang harus dihadapi dengan jangkauan yang hanya 200 hingga 300 meter. Ini berarti tantangan ketika small cell mengoper koneksi dengan small cell berikutnya ketika pengguna di dalam kendaraan yang sedang bergerak cepat. Saat berkendara, berarti Anda (dan kendaraan) mesti melewati beberapa small cell sekaligus. Ini meningkatkan risiko kehilangan atau distorsi paket data. Kendala ini coba diatasi dengan menugaskan small cell hanya untuk menangani paket data. Namun, ketika ia mendeteksi pengguna sedang bergerak diantara banyak small cell, untuk menjaga koneksi yang stabil, koneksi dialihkan ke macrocell.

Ini sesungguhnya menambah kerumitan, sehingga perlu ada inovasi lain. Baik dengan menguatkan jaringan dari ujung ke ujung atau menggunakan software define networking (SDN). Solusi ini memungkinkan operator mencari jalan terbaik untuk mengantar data yang dibawa dengan mencari rute tersingkat. Data juga bisa langsung diproses di base station, pengontrol jaringan radio, tanpa harus dibawa ke pusat terlebih dulu. Teknologi antena untuk mengirimkan sinyal juga perlu dimutakhirkan. Semakin canggih antena akan mengurangi data terputus tiba­tiba. Ini penting untuk keamanan. Selain mengatur transportasi mobil otomatis, koneksi berlatensi rendah ini juga diperlukan untuk melakukan pembedahan jarak jauh lewat robot. Sebab jaringannya lebih cerdas, 5G juga lebih bisa memonetisasi pengguna berdasarkan intensitas jaringan yang mereka gunakan. Mereka yang membayar mahal bisa mendapat priori tas jaringan.

Namun, hal ini sebenarnya bertentangan dengan aturan net neutrality. Konsensus Konsensus global diperlukan agar pengembangan 5G punya standar yang sama sehingga tak ada masalah kompatibilitas. Industri, komunitas telekomunikasi, akademisi, diajak berembuk untuk menentukan masa depan 5G. Setidaknya mereka yang berkecimpung di industri ini sepakat bahwa 5G harus bisa melayani komunikasi machine­to­machine (M2M) seraya melayani kebutuhan IoT. Next Generation Mobile Networks Alliance (NGMN Alliance) memaparkan beberapa konsep standar lain yang telah disepakati. Salah satunya adalah kesepakatan bahwa data rates 5G, harus mampu mendukung puluhan ribu pengguna. Penggunaan spektrum 5G pun harus lebih efisien ketimbang 4G, cakupan sinyal harus diperluas, dan peningkatan efisiensi pemancaran sinyal. Setelah konsep disepakati, ke depan, EC’s Kleiner menyarankan agar industri mesti mulai menetapkan standarisasi yang lebih teknis, semisal mengenai alokasi spektrum. Sebagaimana kita ketahui, data ditransmisikan lewat gelombang radio. Gelombang radio ini terbagi menjadi beberapa pita berjarak tertentu dengan frekuensi tertentu. Tiap frekuensi di pita ini ditujukan untuk berbagai tipe komunikasi berbeda. Baik untuk radio, televisi broadcast, jaringan selular, radio komunikasi, sinyal navigasi kapal laut dan pesawat, dan lainnya. Pengaturan penggunaan frekuensi ini diatur oleh International Telecommunications Union (ITU). Tabel yang menggambarkan perkembangan teknologi GSM dari masa ke masa. Jangka penelitian dan pengembangan tiap jaringan diatas setidaknya dilakukan selama satu dekade sebelum menjadi standarisasi, jaringan menjadi komersil, dan produsen akhirnya menyediakan perangkat yang kompatibel. Satu dekade Meski rasanya 4G baru saja digembar­gemborkan kemarin, tapi sebenarnya teknologi jaringan selular baru berevolusi tiap dekade. “Mulai dikembangkan hingga siap dikomersialisasi, rata­rata membutuhkan waktu 10 tahun,” jelas Hardyana.

Ia lantas menunjukkan tabel yang menunjukkan perkembangan GSM dari masa ke masa. Menurut tabel yang dipaparkan, perkembangan jaringan telekomunikasi nirkabel analog muncul pada 1980­an. GSM lantas muncul pada 1990­an, diikuti 3G pada 2000. Sepuluh tahun kemudian dikomersilkanlah jaringan 4G LTE. Diperkirakan 5G akan komersil pada 2020, meski Korea Selatan dan Jepang bersikukuh ingin menggelar layanan ini pada 2018 ketika Olimpiade digelar di kedua negara itu. Jaringan nirkabel baru hadir untuk mengatasi kelemahan jaringan yang ada sebelumnya. GSM memperbaiki kelemahan keamanan pada telepon analog, 3G hadir untuk menambal buruknya layanan data GPRS di 2G. Nah, 4G hadir untuk memberikan pengalaman ber­Internet yang lebih baik dari 3G yang sering macet, demikian menurut TechRepublic. Proses standar layanan mobile yang baru dilakukan bertahun­tahun sebelum layanan itu dikomersilkan. Pada saat layanan mobile tersebut digunakan orang banyak, standar itu harus bisa melayani permintaan pengguna hingga sepuluh tahun ke depan. Ini berarti, mereka yang terlibat dalam penetapan standar baru, harus bisa memandang atau memprediksi hingga 20 tahun ke depan. Pembuat standar 5G, harus bisa menghasilkan teknologi yang masih layak digunakan hingga 2030.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *