Categories
News

Bahaya nya Tambang Pasir Illegal di Gunung Merapi

YOGYAKARTA — Maraknya penambangan pasir secara ilegal mengancam keberadaan sabo atau tanggul penahan lahar di sepanjang aliran sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi. Kepala Seksi Perencanaan Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO), Antyarsa Ikana Dani, mengatakan, bila penambangan pasir ilegal dibiarkan menggerus sabo, bangunan penahan lahar itu bakal berpotensi roboh. “Dampaknya, sabo tidak bisa menahan aliran lahar dari erupsi Merapi,” ujar Dani, kemarin. Akibatnya, potensi bencana akibat erupsi Merapi akan semakin besar. Pelaku penambangan pasir secara ilegal bukan hanya warga desa di sekitar aliran sungai, tapi juga perusahaan. Warga biasanya hanya menambang pasir secara manual, sehingga jumlah pasir yang mereka ambil juga terbatas. Sedangkan penambangan yang dilakukan oleh perusahaan dilakukan secara besar-besaran menggunakan alat berat. Salah satu perusahaan yang diduga melakukan penambangan secara ilegal adalah PT Surya Karya Setiabudi (SKS).

Perusahaan ini menambang di hulu Sungai Bebeng, Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi penambangan PT SKS hanya beberapa kilometer dari puncak Merapi. Berdasarkan catatan BBWSO, PT SKS tidak memiliki surat rekomendasi teknis dari BBWSO yang merupakan syarat wajib izin penambangan pasir di sepanjang aliran sungai sekitar Merapi. Aktivitas tambang PT SKS juga meresahkan warga di sekitar lokasi tambang. Sebab, keselamatan sebagian besar warga bergantung pada kekokohan sabo. Di seluruh kawasan Merapi terdapat 300 sabo, 12 di antaranya ada di sepanjang Sungai Bebeng. Mukri, salah satu tokoh masyarakat di Dusun Jrakah, Desa Kaliurang, Magelang, mengatakan ia dan sejumlah warga telah berupaya untuk menghentikan penambangan pasir secara ilegal tersebut. “Tapi penambangan secara besar-besaran oleh perusahaan terus terjadi,” ujarnya, kemarin. Kekhawatiran Mukri dan warga sepanjang sungai lahar Merapi semakin memuncak ketika mendengar kabar bahwa telah muncul kubah lava baru di kawah Merapi. Kemunculan kubah lava merupakan salah satu tanda bahwa gunung api paling aktif di Indonesia itu bakal segera erupsi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta menyatakan volume kubah lava pada 25 Agustus mencapai 32 ribu meter kubik. Sementara itu, Direktur PT SKS, Muhammad Luthfi, telah membantah bahwa penambangan pasir yang dilakukan perusahaannya ilegal. Ia mengklaim memiliki surat rekomendasi dan izin penambangan. “Kami sudah ada izinnya,” kata Luthfi. Menurut dia, PT SKS sudah mengantongi izin normalisasi, izin penambangan, serta izin pengangkutan dan penjualan atas tambang. Adapun Kepala Dinas Penanaman Modal, Prasetyo Aribowo, justru mengatakan pihaknya sudah mencabut izin penambangan PT SKS sejak 26 September 2017. Saat ini PT SKS sedang mengajukan izin usaha penambangan baru. “Tapi beda lokasi,” ujarnya kemarin.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jawa Tengah, Sabarudin Hulu, telah menyayangkan penambangan pasir ilegal yang membahayakan warga tersebut. “Bahaya sekali kalau eksploitasi pasir Merapi terus terjadi,” ujarnya. Sabarudin juga meminta agar para pejabat tingkat daerah lebih berhatihati dalam memberikan izin tambang. Terutama untuk penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. “Ekosistem Merapi harus dijaga,” kata dia